Dengan Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Mulia, menulis puisi merupakan upaya memperdayakan sastra secara langsung dan sederhana adalah upaya pengembangan apresiasi terhadap sastra untuk menunjang perkembangan kebudayaan bangsa, termasuk diantaranya menulis puisi berupa pesan moral, kritikan, ajakan, kekaguman, dan sebagainya secara langsung. Mungkin puisi tidak dapat merubah pemikiran dan paradigma moral manusia, tetapi setidaknya puisi secara tidak langsung dapat menjadi renungan. Oleh karena itu salah satu fungsi puisi adalah sebagai wadah menyampaikan pesan moral, ide, gagasan, kritikan, ajakan, kekaguman, ungkapan. Maka puisi harus memiliki tujuan, berguna dan bermanfaat, mencerminkan ekspresi nilai-nilai hakikat kemanusiaan dan dapat menyadarkan kembali manusia pada kedudukannya sebagai unsur penting dalam kehidupan.
Antologi puisi ini adalah kumpulan puisi tidak bersifat kaku, namun karya sastra yang bersifat bebas dan tidak terikat termasuk tanda bacanya. Adalah ungkapan berupa pengalaman-pengalaman keseharian, fenomena sosial, ajakan moral, dan coretan religius.
Harapan saya secara khusus, kumpulan puisi ini dapat menjadi motivasi diri untuk lebih berimajinasi, dan arahan untuk membentuk kepribadian yang lebih baik. Secara umum kumpulan puisi ini dapat menambah perbendaharaan sastra budaya bagi para generasi, dan bagi pembaca puisi adalah menjadi motivasi para pembaca untuk mengapresiasi karya seni, renungan untuk instropeksi diri, menjadi lebih eksis dalam berkarya, dan membangkitkan semangat para pembaca untuk lebih peka terhadap fenomena sosial melalui lariknya yang indah, "Puisi terbaik adalah puisi yang lahir, hidup dan mati bersamamu".
Suatu hari bidadari kecil menatapku dan bertanya "Apakah kau mencintai hidupmu?" Aku jawab "Yaaa..",
Dia menggerling dan berkata "Tapi kenapa kau sering menyia-nyiakan hidupmu", Sambil berlalu memberiku selembar kertas dia kembali berkata " Tulislah sesuatu yang indah", "Tapi mana alat tulisnya?" Tanyaku, Dia tersenyum dan berkata "Alat tulisnya harus kau cari sendiri".
:
"Menikmati Qhuldy"
Aku; terbentur saat Adam terpisah inginnya-sendiri,
Di sorga ada larangan,
di bumi tersimpan harapan,
Apa beda hawa bumi, dengan hawa sorga?
Kenapa berderai menjadi langit dan tanah; Haruskah?
Apa pesan Tuhan dalam ketentuan-tangan?
Perkenalankah?
Kenapa tak halal tersentuh? di izinkan setelah jatuh,
derjatkah?
Atau tempat yang diturunkan sebelum ada kesatuan tubuh,
Jelas bukan Cinta; Adam hanya sepi sendiri,
Juga bukan nafsu; Adam dan Hawa
Hanya; Rahasia Apa? Hingga Adam turun tangga,
Aku terbentur inginku sendiri; seperti Adam,
Menikmatimu Khuldi.
"Warna Jejak Dalam Bayang"
Telah kucerna warna dari titik tidurku, hingga hudurpun mengalir lebur, lalu terang ditabur debu,
Sekarang; tahun lalu,
Tiang-tiang penyangga terlihat sempurna,
Mentari pecah, hujan menyulam jaring-pelangi selingkar titian tujuh bidadari,
Bunga-bunga dan ilalang bergerak papah berat dan basah,
Kumbang terbang, terbanglah setinggi layang-layang di kaki peri-peri waktu, kemudian hinggaplah di wajah bumi yang subur walau tak gembur, hisaplah; turun
Mari. Mari sini; kita rajut butiran langit yang terjatuh menjadi kilau mata air di sudut lumut padi,
Mari, kita semai rerumput sebelum malam tampak tua renta,
mari sini kita kembali berlari mengumpulkan debu-debu yang tertinggal; di sana ada cerita, tetang pesan yang terlalu siang kita pungkiri,
Atau-jika tak ingin; biarlah sendiri aku cari, pecahan embun tadi pagi,
Ya...
Aku akan menyelami purnama; sendiri di jantung langit,
O tanah,
Izinkan aku menciummu lalu aku injak angin, bersegamalah dengan takdirqu; aku letih, di tiduri langit menunggangi bumi; seperti sakit tanpa luka di atas garam-lautan malam
Aku letih,
Lihatlah!
Ternyata satu puingNya telah beku; Terbang, tunggangi layangan,
Warna menjadi kaca, karena cahaya hadir dari tembikar pencacahanya; Sempurna,
sekarang.
Aku dimana?
Tiada kaca yang membuatku mampu melihat senyum,
Tiada ruang kosong; satu terisi, aku takut berbagi,
Tiada kertas, aku ingin menulis; Suara,
Tiada pakaian; waktu menelanjangiku; serupa,
O tanah,
di bumi mana tempatku menanam diri
Aku ingin sendiri,
Sebelum; Nyata,
Aku sadar aku lupa; air juga kaca di bawah ranting yang bergoyang retak.
Mari sini! kembali iringi aku wahai rupa di kaki bisu, kita akan mencari mata air di langit batu, kita akan menyelami sudut-sudut dahi liat sang tanah,
Jangan takut! wahai rupa dikaki, kita akan tetap bersama,
karena siang tak menunggu mentari, namun harapan dari cahaya,
Malam tak menunggu bulan, namun kegelapan yang tetap sempurna,
Tenang saja, dan tunggu; dalam putarannya, pagi juga akan datang. Seperti biasa,
Kita adalah Kuasa Tuhan; duduk dan mati, lalu berdiri menunggu pagi.
"Aku Merindukan-Mu, Dalam Lingkaran Waktu"
Telah terang Rembulan menyitaku,
Ranting sembunyikan bayangnya dari cahaya,
Sungai hentikan riak yang rindu akan kehausan,
Bunga mana, yang tak harapkan air?
Tanpa mata air, dengan air mata ia meminta,
Lihatlah,
Ketentuan yang aku langgar untukmu;
Aku datangi langit saat suara tak ada
kukubur diri; tanpa sehelai kasih sayangpun, dalam pengabdian demi putaran taqdir,
Meminta tangan bicara dengan tanah di bawah cakrawala yang luka terpenggal,
Duhai Ar-Rahman,
sekarang mungkin waktu telah mengunciku dalam penjamuan ruang
takkan ada kisah,
tak ada jamuan,
tak ada tangan di atas tadah pengharapan,
tak ada air hidangan,
hanya air mata di atas secawan rasa,
Wahai Ar-Rahim,
kupanggil engkau dari balik jendela langit,
kuseru dalam linangan doa,
kubuat telaga dengan air mata,
apa benar engkau tak mengingatku saat malam menjelang tiba?Aku merindukanmu dalam lingkaran waktu.
"Aku Mencintai-Mu"
Awal adalah akhir kepada tempat aku kembali,
Dari akhir aku menjadi wujud, ter-awal suci yang dipelihara,
sebelum merintih, telah menetas dalam Istana,
Warnaku hijau sebelum terhempas
hitam sebelum terkelupas
Putih,
Itu dahulu-nya Aku,
Dari mulia turun ke dalam hina; kini nafasku terpenjara di dunia
Tuhan,
Dulu; aku melihat-Mu dalam Firman-Mu,
Sekarang aku buta, tuli dan alfa sejak mata terbuka, telinga mendengar, dan tubuh merasa,
"Aku dimana?"
Kenapa khilaf menyerangku saat nyata tiada nyata?
Bukankah Engkau nyata bersama Syahadat itu?
Aku dimana atau Engkau dimana??
Siapa yang hilang, pergi tinggal dan ditinggalkan?
Apakah tangan-Mu bersamaku?
Tuhan,
Aku menciumMu
Sekarang Aku memelukMu,
Engkau mendengarku,
Tuhan aku lah yang hilang; setelah sadar.
Aku tidak medengar; saat jasad terbuang,
Bangkai ini menjadi malang,
Tuhan,
Engkau lebih dekat dari nyawaku; tanpa kepala aku tetap ada namun tiada,
Tuhan,
Tetaplah di sana; tempat di mana aku mengenal-Mu,
Jangan usir Sifat dalam bangkai ini,
Aku mencintaiMU; tiada peduli, apakah nafsu,
Jauh dari sebelum aku nyata.
"Aku Adalah Aku"
Panggilan isak berkumandang meregang katakata
dingin pecah
hilang bersetubuh dengan ruh;
denyut berganti waktu
waktu mengejar tubuh
tubuh tak lagi tumbuh
tumbuhlah katakata persaksian ruh
_______________
beriak tenang
merah hilang
putih padam
biru beku
hitam haru
suci asal
air berkaca diri engkau menjadi aku;
Aku adalah Aku kembalilah padaKu.
"Dirimu Adalah Aku- Jua"
Kita sering berbincang dengan kuda-kuda akal, berkata seperti gila sendiri
Setengah gila; manusiawi,
Tawanan sepi, karib jiwa akal dan hati
Namun gilaku sempurna pada-Nya, nyawa-suaraku jiwa-Nya,
Satu-satu mata menatapku, ribuan kata mencelaku; aku tau, cela itu bukan wujud-Mu karena pujian hanya Milik-Mu,
Aku berputar dari kiri kekanan, berkata sangat gila untuk-Mu, Rahasiaku; bunuh aku agar dapat sangat dekat bergilaan dengan-Mu,
Mendengar, selalu ingin bertemu; Rindu,
Melihat, selalu ingin berkata; Cinta
Merasa, akan sangat Rindu, bersyahadat meminang-Mu,
Aku menggilai-Mu Aku satu takut berdua, walaw nyata diri-Mu adalah Aku jua.
"Tuhan Dekapan-Mu Lebih Hangatkan Nurani"
Terik daya hanyutkan aku dalam ketidak berdayaan,
budak dunia panggil aku untuk bersimpuh tunggangi kereta harapan,
di atas pasir-pasir,
terik berapi-api aku hampir mati,
terbakar kuliti ruas raga ini,
Peluk Aku Tuhan,
rintihanku tersandar jauh dari isaku
ratapku hilang ditelan malam lolongan srigala,
jubahku koyak termakan waktu merayapi sisa-sisa iman
sajadahku hilang saat khilaf menyerangku di senja-Mu,
Tuhan,
Haruskah aku menghendus agar terhirup wangi peluk-Mu,
Tuhan seret saja aku,
mataku telah buram, dua kakiku taklagi ingin diperintah,
telinga tak lagi ingin disapa,
Tuhan,
Aku,
hanya Engkau yang tau..
"Bidadari Itu Engkau Ibu"
Takkan ada rasa lebih setelah itux
Hanya doa dariku; jiwa yang pernah hidup di Rahimmu; itupun tak-kan mampu untuk cu-kup sebagai syukur di atas wakil sekalian rasa, makna yang lebih kuat-menyamai lembah kasihmu,
Hidupmu lebih indah dari matiku,
jika kata berumur syukur kutunaikan dipuncak leburnya do'a tak berpintu Kasihmu meyelimutiku,
tangis engkau robek menjemput mimpi kala itu,
Aku tak pernah tau, 'Arsy berguncang saat-suara meregang nyawa kehadiranku.
Ikhlasmu;
Tiada air mata mengerang sakit kelahiranku,
Tulusmu; satu kata darimu adalah bintang mutiara keindahan sorga,
Belaian kasihmu bukti adanya sutra kelembutan sorga,
Dirimu utuh bagiku, Cahaya Bidadari Penghuni Sorga adalah Engkau Ibu,
Tiada sesiapa, Malaikatpun tau.
"Saat Sorga Menangis"
Hanya ingin;
tak lebih menjadi angin;
tak kurang menyapu air;
tak sanggup mendengar hujan;
tak henti menjadi sepi,
Tak biasa air kulepas jatuh menjadi sungai,
ingin kutawar menjadi wudhu
agar langit sempurna diujung lidahku berdo'a,
Tak sanggup kubiar embun diatas kertas,
ingin kubawa dahan mutiara
agar kilau menjadi binar yang sempurna,
Ya itu hanya,
Aku belum kuasa, untuk bisa menjadi biasa,
Aku Ingin,
tak lebih, hanya ingin,
bersedih,
Sorgaku menangis,
Ibu Ayah,
halalkan aku membendung air suci itu,
Tuhan,
taqdirkan aku menjadi tangan; menampung hujan permata di sana!
Aku Mohon.
"Getahmu Bangkai Manusia"
Getahmu bangkai manusia,
sewujud persaksian silam hiduplah hayat bertasbihlah!
dalam luka-dupa rupa ibu,
jangan sujud pada hati,
jangan menyembah seperti dahi,
Tuhan menciptakan cinta untuk diriNya sentuhlah,
semua fakta berdiri di balik rasa, bersemayam dalam yaqin,
lihatlah ke dasar cermin,
biarkan bayang menyentuhmu,
Duhai air,
jangan takut jika tak ingin terluka,
jangan ragu jika ingin tau,
jangan yaqin jika tak beriman,
Tuhan menciptakan wanita; bukan berhala,
Duhai air mani,
Tuanmu takkan mengajarimu cara mengalir,
semut takkan tidur dengan madu
jika engkau ingin tau, berkacalah pada waktu.
"Durhaka"
Lemah rasa kuat menyanding lebam, luka, muntahkan noda di rongga tawa,
Meriang remuk aliri diri, menuntun mata meraba hati,,
Berteriaklah jiwa-jiwa menahan waktu di raut kelu menyeru pulang,
Senja berkabut dalam sukma,
Serunai buram tak sampai menyapa perih,
Akal bercermin harta, tahta dan wanita merajuk fana,
Kemana???
Arah papah, iman lemah tersayat, waktu mengais sisa-sisa usia,
Langkah tandus mengukir air maknai dunia mencair,
Liar naluri tanpa pondasi menyelam dalam sesal mencari diri,
Akal menjadi kaki, hati terperangkap mati,
Akal berlari, hati bersembunyi di larut jiwa,
Di mana???
Maut,
Persembunyian jiwa, akal naluri mencari tiada guna,
Jiwa ghaib lebihi angin, sedang akal bertanya pada mata tanpa hati,
Mustahil angin nyata menyapa mata, apalagi jiwa; anginpun tiada guna keras bertanya,
Suara maut datang merenggut, lebihi kilat ia menjemput,
Siapkan Kalam itu,
Kematian pesan detak dalam jantung, bahkan lebih akrab dari luka dan sakit
Tempat sembunyi adalah sandaran Iman pada Tuhan,
Mana mungkin akal kembali pada Tuhan, sedang pada Iman akal malu bertamu
Lalu siapa???
Tiada sesiapa, yang di tiupkan empat bulan sebelum janin bernyawa,
Yang dihidupkan sembilan bulan sepuluh hari menangis,
Apakah yang ditiupkan akan berpulang dengan tangisan,
Sungguh durhaka engkau wahai manusia,
Sumpah tanah sesal engkau menginjaknya.
"Perawan"
Biar langit itu terkoyak
lalu lihatlah!
Pintu berlapis emas tujuh penjaga; Terbakar,
Air hujan menjadi debu hilang sendiri,
Kupu-kupu menyulam sendiri, pakaiannya tanpa sutra telanjang membawa mahkota,
Madu mengalir di atas susu,
Daun menjadi hijab, antara selaput A'rsy yang bergemuruh lebah jantan,
Manis anggur menawan mata, tertarik-jatuh dari rusuk biji atom muda,
Kulihat dengan bahasa semua telah direkayasa
Sepertiga dusta, selebihnya rimba raya,
Walau di kutuk dengan kata sederhana, harusnya nikmat itu mulia,
Namun sempurna; air hina kembali ketempat hina dengan jalan yang hina,
Hanya sepertiga rahasia; jutaan ternak berebut makan dalam singgasana hanya sementara; Nikmat adalah malapetaka; tandu suci ratu buta.
"Jiwa Terluka Tertikam Bencana"
Jika rasa sakit telah menghujam tajam,
menghantam isi dinding rusuk kiri
maka hentakan kakimu
kepalkan tangan, dipusaran jantung bumi..
katakan..!
aku takan pergi..!!
karna rasa sakit ini..
aku takan lari..!
walau engkau masuk mengrogoti sel saraf otak kiri
AKU takkan mati..!
hingga nadi berkata..
aku akan berhenti
:
karna..
dengan hati..
disini aku memuji..
menanti cinta sejati
Sang ILLAHI.
"Rahasia Tinta"
Yang terlahir dari pena akan tersimpan dalam angin, bingkai dari makna, antara pola-pola jiwa,
Menangis, meronta, tertawa
luka adalah tanya; sakit induknya bahasa, huruf-huruf berdiri sendiri, mencari cahaya padamkan diri,
kata menuliskan jiwa-jiwa dengan ruhnya si rasa,
turun,
naik, lalu hancur dalam kosong menggema,
terjatuh,
meronta,
patahkan lidah mencuri ludah
menetes,
Dalam titik mencari sifatnya yang labil di ruang nada,
berhenti membunuh koma,
Sekarat dengan tanya. Engkau siapa?
Tiada yang tau,
Kata, nada, rasa dan makna; saling rajam temukan jiwa pemilik Bahasa
Tiada yang duga, Bahasa adalah Mahkota Jiwa.
"Akar Pemohon Rasa"
Tarian sukma melesat, menerjang kubah-kubah singgasana, seru-menyeru meniti-sirat memecah auman jiwa menerobos tuas Alpheratz,
menyinggahi Rindu menitipkan Do'a
menabur angin dalam notus di lingkar Procyon persemayaman Khiron yang halus, Oupis; tertuju pusat terfokus; dia yang menyulam Iris hingga takjub menawan retina di pusaran Afrodit,
hingga rasa tenggelam melebur jiwa, tersimpan tanpa dengkur layaknya Endimion terpikat Iynx dalam hening yang bening,
Masih tentang dia, Rindu yang turun dalam kaca,
Rahasia angin dalam jiwa,
kutitip do'a, dilembah harap helaian noktah cinta-Nya,
di alam Yang Maha Kuasa sujudku meminta;
Ridho-NYA, dan Restu dari pemilik rahim ia-nya; Awal bernada.
"Hikayat Cinta"
Saat kata tenggelam dalam lautan rindu,
hati tak sempat mengadu lewat mulut yang terkunci bisu,
Batas jarak imajinasikan roman di ruang khayal
jauh..
rindu..
bersatu..
dalam rasa tumpuan biru.,
Sakit akan sangat terasa saat semua makna ada di balik kata,
Rasa perih akan menghujam geram menanam benih di rongga jiwa
saat itu; kata terpasung tak bicara ingin meronta,
Untukmu Rahasiaku,
akan kusinggahi Ababil di segi tiga bermuda,
pembawa kabar,
tentang hati dari rasa yang terpenjara; kosong,
Untukmu,
akan kulukiskan cerita di atas kanvas dunia dengan rasa tinta tak bermuara,
Hy Ababil..!
bawa berita ini ke atas sana, di ujung sangkar cakrawala,
titipkan pada malaikat pemegang busur Afrodit,
tolong arahkan ujung rasa dalam tandu biru itu,
dalam Arsy'Nya Singgasana Sang Pecinta,
rasa dari jiwa yang bersemayam di lembah jiwa pencari jiwa-jiwa Quddus-Nya,
Masih untukmu Rahasia jiwaku,
Akan kubalut luka dengan rasa di palung hati,
agar engkau tau,
rasa itu belum pergi dan mati,
Bangunlah..!
aku masih di sini,
dalam kurun tak berbatas waktu,
Bukan untuk diam, walau hanya duduk di lekuk tempayan untuk bertamu,
namun sebagai hati, pembawa pesan dari,
Pecinta Sejati Sang Illahi,
Dengan tandu jiwa kuhuturkan nada suci itu,
dari makna selingkar bahasa,
kuharap engkau menjadi, sudut terang dalam cahaya,
Wahai Rahasia,
Inilah nada selingkar bahasa;
sejauh mata, sedekat telinga menyapa Rindu dalam selaput sutra
putih..
bening..
bahkan lebih dari suci,
kata-kata menari, dalam rasa Kalam Illahi,
Halaqah-halaqah jiwa menyambut-saut-menyahut dalam serunai Rindu
Mata terpejam,
telinga diam, karna suara menelan bisu,
Jiwa-jiwa bergema, saling bertabur dalam lentera tujuan-satu-pintu
Cahaya-cahaya meronta, bilang tak terbilang hilang sunyi-senyap-sempurna,
Akal hancur-logika lebur,
Fanabillah Baqabillah,
Bathin berserah tunduk bertumpu jadi satu arah,
jiwa-jiwa tersimpan dalam satu jiwa, hingga pasrah,
Bertahtalah;
tersingkaplah tirai tabir
Bathin melihat-bicara-mendegar, Khasaf-pun hudur mengalir
Di sanalah Hakikat Cinta Sang Pecinta Meminang Cinta,
Hanya di sana,
saat kelopak hati telah terbungkus Nur Illahi,
dan,
di sana semua menjelma menjadi pintu tak berkunci
Hanya itu untuk hati, Labuhan jiwa.
"Untuk Rupa Yang Terlupa"
Jejak sifatmu kusimpan di dalam tekateki sapu lidi,
satu goresan,
seribu prilaku,
O Nilam,
di balik malam tarianmu mengajakku bersimpuh di ujung tubuh
satu mata
Mendustai seribu tanda tanya,
-kenapa?
+maaf!
jangan injak; nikmati saja!
jadikan satu apa yang terbelenggu,
ikat keinginan di luar jasad,
tak perlu dengar tujuanmu,
tak perlu meminta, ditubuhku tak ada imbalan,
hanya ada satu aturan;
+otak dan air ludah biarkan jadi rahasia,
ini sorga; jangan takut jika terbakar
takkan pernah ada api sedingin ini,
-O Nilam,
idzinkanlah kukenal perjumpaan itu; kembali,
biarkan cahayamu masuk dalam-malam ujung bahasaku,
tubuhmu hiyasi kulit purnamaku,
suaramu turun menjadi aku,
biarkan aku ditanganmu,
-O Nilam,
+Ingat aku disifatmu!
bunuhlah prilaku kata di luar wujud tanda lahir,
engkau wajahku,
tangan dalam sifatku,
tulis nama ibu,
lukis wajah ayah,
simpan dirimu antara ayah dan ibu
masuklah,
Aku milikmu se-umur waktu malam ini untuk rupa yang terlupakan.
"Tayamum"
Malaikat duduk-tunduk menyimpan kayu suci dalam tulang,
Kehendak berkehendak wujud,
Kuminta satu patahan,
Ia tatap,
turun
Menendangku jatuh mencium tanah
Di lumuri debu dalam pasir,
Cukup!
"Jika tak ingin jangan buat aku menjadi bumi kembali"
Marahnya sepadam api,
Kembali lebihi cahaya,
Sekarang sendiku lumpuh,
Di atas batu,
Menjadi sujud ampun.
Mintalah pada Tuhan yang memberimu aqal; pikirkan
Kenapa rusukmu terpisahY,
ang lain adalah bahan bakar kehendak liarmu.
Nanti.
"Nona"
Untukmu,
akan kucari camar di segi tiga bermuda,
pembawa kabar tentang hati yang terluka,
Untukmu Nona,
akan kutoreh cerita di atas kafan dunia, dengan darah
tinta tak bermuara,
hy camar!
bawa cerita ini ke atas sana di ujung sangkar cakrawala, sampaikan pada malaikat cinta,
tolong cabut.,
rasa yang bersemayam di jiwa,
itu saja,
dari ku, untuknya bagimu.
"Telanjang"
Kutulis suara dengan ludah
tanpa alinea dalam daging,
sebab “harus” diakhiri lewat akibat,
Mati; bagiku titik berhenti seruncing nafas, berhembus khianati nyawa,
Hingga derai tiuplah Angin?
Aku akan melingkari “siapa”, Menjadi “apa”
lalu terbanglah debu,
butalah mata,
tulilah telinga,
Air turun mengikat garam,
Kosong,
akar menarik saripati diri; khilaf tumpah berkarat,
"saat"
wajah-waktu telah mengirim imajinasi pada otak; Pembodohan
Kapan?
Inilah pertanyaan hilang tak terjawab, untuk lidah si “saat”,
berfikir adalah jawaban, berhenti kunci atas pilihan,
Yang kupikirkan adalah akal;
benda mati yang hidup tercerna dalam hati, bermain dengan jiwa,
Intim-mi panca indra,
apakah aku gila?
sebelum sadar ku jawab “iya!”
apakah aku hidup?
sebelum mati kujawab “tidak!”
karena Aku sadar Aku gila, Sebelum bertanya “apakah aku nyata?”
Masih huruf serupa; rangkaian mata dan telinga,
|diam atau tetap kosong di bawah renungan.
"Belenggu Cinta'
kadang kita lupa, dimana ? saat cinta datang hadirkan bahagia,
di sana,
dalam kamus jiwa, catatan hampa tanpa suara, hayalan jingga, di benak fatamorgana,
saat itu semua maya,
hingga akal tak sempat berfikir,
kapan cinta memberikan bahagia,
chanda,
tawa,
tarpanjara satu, dalam suasana,
tarombang ambing dalamnya lautan asmara
namun,
kadang kita juga lupa,
apa itu cinta???
Cinta itu ibarat embun,
abadi di sudut daun,
namun,
sekejap akan lenyap,
saat mentari menari, di atas kelopak pelangi,
cinta laksana air, mengalir dari mata
di puncak kaki bumi,
bersih,
bening,
putih,
suci,
namun hina,
saat sampai di kaki para pendaki
dirusak,
diinjak,
dengan najis birahi,
itulah cinta
hati yang kehilangan nurani,
taruhan jantung di mulut birahi.
"Untuk Nona Di Jurang Janji'
Bendera KUNING telah berkibar Nona,
gagak hitam datang menyahut menyabut kabar
tentang hati
tentang harga diri
yang terinjak diinjak duri
terbunuh sebilah rumput di ujung kabut
terkubur disayat mimpi
diazab sepiring JANJI,
Aku muak Nona!
OTAK Nona membakar ilalang, menyiram api tiada henti
BUJUK Nona halus menikam Nurani, mengunyah detak jantung ini
Nona!
Apa harus kusingsing kulit ini agar dapat KAU lihat budak jelata tanpa daging pembalut tulang...?
atau KAU ingin lihat isi dada pemuda biasa ini?
tak perlu KAU malu, isinya bukan EMAS atau PERUNGGU
hanya sebait JANJI yang KAU tumpuk hingga BUSUK menjadi SUMPAH yang berkarat
Nona,
Engkau tuli atau bisu,
dengar AKU,
bukan putih nasi yang buat aku kokoh berdiri tanpa kayu
bukan hitam hati buat aku tikam teman makan lawan
bukan geram jantung buat aku bangun dari mati
bukan itu Nona,
bukan,
Tapi
JAWAB DARI KHILAFMU, telah BUAT SANUBARI MATI SURI
hanya itu
hanya itu, ITU buat aku gila tanpa raga, bicara tanpa NURANI
karna itu KAU yang PINTA
NONA
Kenapa???
itu dariku, surat yang tak terbaca
mungkin masih terselip di hatimu atau telah dimakan rayap.
"Aku Belum Mengerti, Apa Itu Arti, Apalagi Pagi"
Titik-menguap tanya,
sembunyi; mengintip suara di bawah rahasia sekuat nilam,
Sekarang datanglah engkau wahai permata di kaki subuh,
tuntun haluan angin di tangan purnama murung,
bingkis segala pesan; ungkap sejuta titah,
Penjarakan segala tangis yang mengikat simpul-sendi urat nadi,
pecahkan tekatekinya sungai,
tentang mata, telinga dan rasa,
Duhai langit izinkan
Aku akan datang meramu sorga di lamunmu, jangan tutup awan, tanduskan saja senda gurau di balik risau kabut yang menikam isi pati-tanah,
Duhai Baginda Ratu; ber-sabda-lah dalam kalbuku,
goreskan pena-pena lakumu dalam sifatku,
Aku ingin pahami bahasa angin yang menyinggahi jantung tubuh-alam ini
Aku belum mengerti. Apa itu arti? Apalagi pagi.
"Entah"
Musnalah engkau tulisan!
atau aku bakar, agar abumu menjadi hujan,
Atau engkau ingin aku kembali menulis cacian dipojok kamar;
mari telinga dengar aku,
bangku engkau diam saja!
atau bergeraklah kembali, agar aku jatuh; untuk apa aku berdiri, jika engkau tak memberi alasan aku duduk?
Kau juga meja! lain kali engkau harus bundar. empat kakimu menghalangi dua mataku, dengan sudut yang runcing; aku ingin bicara
mata!
sini!
tangan, kau juga jangan diam bodoh!!
teteskan garam ke dalam retina; agar tak tersentuh lagi mimpi mimpi tadi malam.
Tubuh !
telah kuberi engkau waktu istirahat. temani aku; di otak ini dunia masih gelap dan beku,
Hati, tunggu sebentar kawan.
biarkan semua kompromi; satu detik lagi kita berlari. Menuju Illahi
hy bangku !!
Aahk!!! jangan hanya diam, bergeraklah sekarang!
agar aku tau. kenapa kaki harus bangkit?
lalu ceritakan sebab padaku langit. Jangan meratap; Aku tak ingin melihat pelangi,
Api sini!
bakar lah semua yang kutulis. lalu buatlah asap asap tentang candu dan nestapa;
Aku ingin kenal siapa diri; Kembali.
Apa benar aku adalah Aku?
yang hilang bersama pagi.
"Jejak Diri Dalam Hati"
Kutemui damai, kuat dalam temaram sunyi kepolosan jiwa-jiwa,
meresapi keindahan,
larut bersama Sucinya hakikatmu,
di lembah pertemuan, antara muara langit, kasihku engkau rangkul di linangan air QuddusNya,
Hadirku engkau seru kepada-Nya,
Telaga dimataku tumpah, bening ini terjatuh pecah dan basahx
"Tuhan, dalam usia aku butuh waktu, namun bersama waktu, Kokohkan Qodrat jiwaku menjaga Anugrah-Mu;"
Tuhan,
Aku melihat jiwa dengan jiwa,
Jika mata, aku nyata di bawah haluan fakta dunia buta,
Tuhan,
Sungguh aku takluk sedalam pandang, menyelami wajah ini, kutemui jiwa polos berbalut suci diri..
Letakkan aku beserta belaian kasih-Mu, untuk selalu mencintai; Ciptaan-Mu.
"Ilusi"
Lorong semakin sempit, runcing lingkari ulir,
lorong semakin kecil, halus dalam air, lorong semakin kosong, nyata bersama angin satu;
Tinta jatuh tertiup angin, merayapi titik sesepi mungkin gerimis; angin; menjemput pelangi sebelum pagi dupa telah berganti asap, asap lenyap terbawa ilusi, fatamorgana mampir menangkap kosong siang diri hanya satu;
Aku ingin ini mimpi; tersapu rindu debu berhembuslah, tunggangi angin menuju sepi, kuda poni kibaslah awan menjadi air, buka lorong itu, kembalikan; biarkan aku bermimpi,
Duhai pagi, hanya satu,
jadikan ilusi.
"?"
Kuterjemahkan ayat-ayatMu kedalam tubuhku,
saat aku buta akan huruf yang kubaca
kutelan matahari, kutiduri rembulan; Ibu menjadi bumi, Ayah memeluk langit,
lalu kukubur semua amanah yang mengikatku,
Ibu Adam adalah tanah, Ayahnya kulimah,
Saat lisanku bertanya Rahasia apa yg Engkau terjemahkan dari rusuk Adam? Hingga Hawa tercipta ,
Kaum Adam memuja rupa Hawa dalam kehausan, lupakan wujud sejatinya Engkau,
kurasa Nafsu larut dengan kemauanya dalam IradatMu,
IradatMu adalah SifatMu,
Malaikat apa yang menjaga sifat itu? Aku tak perlu tau Tuhan.
"Kesurupan"
Tinta mnulis tubuh
tumbuh subur dilangit katakata
kata likumu tinta; sandiwara koma mngintip tanda pdalaman asapasap berita
dupalukakitangisair matabutabuuu lan tas
wajah mati rupa
muka hilang harapan
lidah ksurupan; langit ludahkan mantra kasihhh- an
kabar muntah mncakar kabarmenggelepar mnyumpah cakar-wala
dunia
katakata ksurupan
anjinganjing jadilah srigala
tiuplah anginangin bicara
sutu depa
dua lidah
tiga indra empat makna
engkau anjing tuan siapa.
"Tanah Air Mata"
Yang terluka tetap saja ada, dari rahim hingga sakit mencekik tak bersuara
radang tumbuh dalam mata, lebih terdengar-karna ia saudara
Tak heran-benar dalam mangkok ada comberan,
Lalu, aku-kita-mereka kenyang bersama,
Apa salah mata bercerita?
Tikus-tikus berenang dalam santapan, ratapan siang mencuri sisa-sisa selokan
Yang terluka tetap saja ada..
awal fajar hingga gerhana purnama tenggelam,
pengemis meminta, penjambret bertanya? "Yang kucuri; apa yang kau-minta?"
Apa susah jadi manusia?
yang meminta ada dipenjara
pencuri kabur dari tanah-legam hitam-kental kelahiran; ia di persunting, saat berteriak mengejar kehidupan.
“Tuhan jika aku Engkau izinkan mati dengan timah itu! Biarkan darah ini menjadi nasi; aku mencuri karna lapar dan harga diri”,
Pencuri tetap saja mati; darah mustahil menjadi nasi. Hidup bukan lagi untuk negeri,
Yang duduk merdeka;
Demi kehidupan dan harga diri
Koruptor tetap haru dalam tawa, di bawah laci dan dasi ada suara yang dikunci,
O
Aku heran! kita heran; semua menjadi beban dalam pikulan
kata tetangga. Aku kaya, kita kaya, mereka kaya; Kaya akan hinaan jalan raya,
ini tanahku, tanah kita, tanah mereka, tanah air mata,
Sekarang apa?
Dari timah menjadi darah; membusuk dalam nanah,
daging-daging adalah santapan; bangkai mulia jadi hidangan,
Apa susah jadi manusia?
rumah anjing dikawal srigala; Istana setan di diami iblis; manusia tetap saja tertawa,
Aku manusia, kita manusia, mereka manusia; lalu siapa yang tertawa?
Ini negeri siapa yang punya?
Tanah sorga; manusia durhaka,
Karena, yang lapar tetap saja ada,
O
Aku heran, kita heran; semua jadi kekuatan dan pikulan,
Ini tanahku, tanah kita, tanah mereka, tanah duka; Tanah airmata.
"Puisi Cinta"
Aku menemukan pelangi yg takkan pernah serupa; hanya satara air dan kaca,
menarik nyata di atas sana dari rasa yang aku punya; saat bulan di matamu mulai meninggi,
mentari beku dan sepi,
detik telah letih, namun tak berhenti,
berlalu bersama dingin dan butir-butir embun di dahimu,
Maaf
Kukecup dahimu tanpa ragu
Kuselusuri aliran darahmu tanpa salam,
Sekarang aku ada dalam nadimu
Kuterjemahkan sifatmu kedalam sifatku,
Sekarang nyatamu menyelimuti pikiranku,
Kutemui bayang bayang,
Sketsa yang menimpa keraguan,
Sekarang aku ada dalam muaramu.
"Teruntukmu"
Sebelum tandu itu meminangmu,
berita langit kau kabarkan ketelingaku,
sampai nafas ini di sini aku masih menjagamu,
karna hanya engkau,
tanya yang tak pernah terjawab?
kata yang selalu menjadi Rahasiaku yang tak perna ku tau,
dalam pijar aku masih kosong menyandarkan sosok jiwamu, Jiwa itu tak lagi kutemui,
tak terlihat,
dalam khayal tak kutemukan, sepertimu,
Dirimu tetap satu bersama pesan itu
dalam tenang aku berharap, namun khayal tetaplah lamunan tak bertumpu,
seperti terang tak bercahaya,
seperti bumi tanpa pijakan,
Jiwa mu,
adalah bukti, lukisan bidadari
Hati mu,
adalah tempat, nada terakhir yang tak pernah engkau balas
saat berbisik; dingin, hembusan aroma, nafas sorga menusukku.
"Fatamorgana"
Aku ;Tersandar menyandarkan letih yang kupelihara dari akar hingga bunga rindu itu menganga, Tanya menjadi rongga, kurajut dalam kabut panca rasa. Mencari diam di lentera sunyi, agar jawab lebur bersama angin dalam air. Melayang dari titik lingkaran Quddus, tertumbuk bertumpu satu, Satu alasan, Satu kekuatan.
Itu Aku
Dalam awal, di luar akhir. Berputar tak terjumlah, tegap terjatuh berdiri lumpuh. Sayap-sayap tasbih terhitung lebur, robohkan Qodrat akan Iradat Ilmu merentang Hayat. Sepi telah sempurna, sunyi senyap sendiriku fana.
Masih tunduk, menyelam tetap mencari mencari jawaban rusuk diri, mencari jalan urat nadi,
Bermimpi ingin keluar dari mimpi meraih arti
Runtuhkan akal taklukan bayang cahaya malam,
Aku…
Ingin berdiri, dari tunduk nafas yang terpari
keluar menerka alam dini hari
menarik jantung purnama, tertutup enggan tak berlentera.
Aku dari sabda Quddus yang bersemedi karena, dari Kuil aku hanya bisa mendengkur tak kudapat yang kucari, hanya asap dupa dan lonceng bergema, menghirup jejek petapa tandus.
O fatamorgana,
Kemana tanya harus di tebus?
langkah tak lagi terikat mata karena letih hati tak mampu memberi makna, saat arah hampir buta.
Pada siapa jawab itu akan dinanti?
Dan, aku sendiri, bersama diri senyap tersembunyi.
"Aku Ingin Pulang''
Keangkuhan telanjangi nurani,
berdiri dalam angin menginjak bayang-bayang di atas lelap mentari
mencari berlari, terjatuh hanya bermimpi,
Sombong menelan malam, mencuri catatan tinta ghaib,
bernadi menggenggam langit, menentang rahasia perjanjian alam rahim,
menepuk dada bungkukkan punggung.
Angkuh, berlari menompang dagu di atas batu,
berdarah tanpa luka, kerana luka tak perlu darah sebab darah adalah luka dalam bisu,
Kenapa harus ada mata dengan air suci?, jika sombong adalah detak dalam nadi,
Untuk apa tangis?
sedangkan isak tak mengubah kasta, jelata menjadi tahta,
lebih baik perang, kerana perang darah menjadi tawa yang, berkumandang,
sakit adalah nyawa untuk berdiri, di sini aku mati di sana lebih berarti,
Aku ingin bernyanyi dengan ribuan burung nazar,
berpesta di atas bangkai meja bundar, kerana aku lapar,
Haus akan darah,
Kosong,
Lapar mengangkang dan merandang, dalam Timang Pertiwi yang Malang,
Aku ingin dibuang dan terbuang ke Negeri asal,
Negeri Moyangku menyulam tulang
Negeri Qhamar, kelambu sutra, pilar emas intan permata,
Negeri buah terlarang, tempat Moyangku menghilang,
Aku ingin pulang.
"Fir'aun Turun Abad Ini"
Tak terlihat bekas tunas di kanvas subur, ranting muda paparkan wajah seakan tua hanya alasan merangkul maut, walau pasti Kalam Quddus, namun yakinku akrab benalu kerdil hisab nadi jelatang purba, telanjangi pundi-pundi keyakinan di atas relif tanah yang rela kata mereka tak ber-Tuhan,
Berbaringlah api,
Lalu lihat ayat-ayat nikmat mulai akrab tancapkan laknat di atas iman; bukan rekayasa, namun keyaqinan; Esa Yang Hilang sekarang tak terbilang; Fir’aun telah turun Abad ini. Yang Kuasa Hanya Allah Semata.
"Api Sesepuh Neraka"
Jika renta bukan permainan waktu
menjerittt lah!
Meronta pada taqdir suci kejadianmu
ratapi akar-akar benalu dalam sorga
sebab keringat bidadari tak mampu engkau raba,
halal darahmu terkikis butir-butir letih ibumu,
Jika itu pasti,
Kalam Tuhan akan bernyanyi,
Bayi-bayi lebih dulu terkutuk jelmaan bidadari,
Ibu menikam rahim sendiri,
Malaikat membakar perjanjian lorong serunai sangkakala,
Tertawalah !
sebab sumpah telah kau pinta dalam kutuk kejadianmu yang bertahta
di bawah langit-langit engkaulah sketsa sang raja,
Raja di tanah Musa
Engkaulah penerang dalam cahaya, abu di bawah tungku yang membara,
Api Sesepuh Neraka.
"Izrail Temani Aku"
Sunsang-sudah Masa mencerna warna dari titik tidur purnama muda; hudur mengalir lebur, lalu terang ditabur debu.
Sekarang; tahun lalu.
Tiang-tiang penyangga terlihat sempurna,
Ditata rapi dalam etalaseNya
Seperti taqdir yang tak pungkir di atas keyaqinan; semut merah itu menyengat,
Tuhan
mentariMU pecah,
Saat ini hujan menyulam jaring-pelangi selingkar titian tujuh bidadari.
Bunga-bunga dan ilalang bergerak papah berat tertiup-basah.
Kumbang terbang, terbanglah setinggi layang-layang di kaki peri-peri waktu, kemudian hinggaplah di wajah bumi yang subur walau tak gembur.
Hisaplah; turun
Mari! Mari sini; kita rajut butiran langit yang terjatuh menjadi kilau mata air di sudut lumut padi.
Mari, kita semai rerumput sebelum malam tampak tua renta.
Mari,
sini, kita kembali berlari mengumpulkan debu-debu yang tertinggal; di sana ada cerita, tetang pesan yang terlalu siang kita pungkiri.
Atau-jika tak ingin; biarlah sendiri aku cari, pecahan embun tadi pagi.
Ya
Aku akan menyelami purnama sendiri di jantung langit,
Tanah
Izinkan aku menciummu lalu aku injak
Angin, bersegamalah dengan takdirqu; aku letih, di tiduri langit menunggangi bumi; seperti sakit tanpa luka di atas garam-lautan malam
Aku letih,
Lihatlah!
Ternyata satu puingNya telah beku; Terbang, tunggangi layangan,
Tinggi tak terlihat, jauh tak terjamah
Warna menjadi kaca, karena cahaya hadir dari tembikar pencacahanya; Sempurna,
sekarang.
Aku dimana?
Langit; engkau benar
Tiada kaca yang membuatku mampu melihat senyum,
Tiada ruang kosong; satu terisi, aku takut berbagi,
Tiada kertas, aku ingin menulis suara,
Tiada pakaian; waktu menelanjangiku; serupa,
O tanah
di bumi mana tempatku menanam diri
Aku ingin sendiri.
Sebelum; Nyata.
Izrail
Dimana aku harus mengukur matahari
Aku mulai dingin sepucat api
Rahasia cermin mulai melupakan diri
Haruskah aku titipkan urat nadi pada sayapmu?
Duhai Izrail
Engkau ambil yang ku panggil
Engkau tarik satu masa perhitunganku
Sekarang temani aku
Kesedihanku semakin kotor
Sendiri di dalam batu
Menjelma di dasar angin
Berakhir seperti abu,
Abu buta
Abuabu sepucat pandangan mata
Sedinding warna purnama
Semua makna; serupa asapasap dupa
Titip-menitip tanda bersanding kamboja
Melati muda
Mawar putih
Air jingga
Air mata
Mata air
Air duka
Air langit
Air-air bernyanyi
"Titik-rintik ini membosankan Kawan"
Engkau dengar!
Atau kembalikan rusuk yang kau pindah sambung itu
Apakah rusuknya indah?
Kenapa patahanku ada di sana?
Izrail
Aku Cemburu
Pada batu
Pada langit
Pada embun
Pada bumi
Pada tanah
Pada api
Pada angin
Pada air
Padamu
Padamu yang terakhir
Kenapa harus berakhir?
Kaca jiwaKu yang suci; kenapa aku dikunci di luar rumahMu?
Cuaca di sini terserang penyakit
Hujan akut berkabut di manamana
Aku hilang indra, panca Tuhan ketika langit menua
Semua sama
Angin tak ubah tanah; sama
Tanah menjadi api
Api berbusa air
Air mataair yang sama
Air menari
Air bernyanyi
Air tawa
Air luka
Luka yang sama
Sama saja sama
Angin
Aku ingin
Meniup dupa
Membaca ribuan mantra katakata terluka
Izrail duduk saja
Diam! atau aku bungkam satu nyawa persaksianmu
Duduk saja
Aku mohon
Sekarang
Biarkan Aku sadar aku lupa; air juga kaca,
Tempat bercerita kaum purba,
Saat fata dikawal meta antara mata,
Oo. sempurna
Bayangbayang suara terlihat dibawah cahaya persembunyiannya
Seperti dulu; Aku ingin kembali, di sini; sebelas tahun usai,
Mari,
Mari sini!
kembali iringi aku wahai rupa di kaki bisu. Kita akan mencari mata air di langit batu, kita akan menyelami sudut-sudut dahi liat sang tanah;
Jangan takut! wahai rupa di kaki, kita akan tetap bersama selalu,
karena;
Siang tak menunggu mentari, namun harapan dari cahaya,
Malam tak menunggu bulan, namun kegelapan yang tetap sempurna,
Tenang saja, dan tunggu; dalam putarannya, pagi juga akan datang. Seperti biasa,
Kita adalah kuasa Tuhan; duduk dan mati, lalu berdiri menunggu pagi.
-Aden Darrel-
_
Salam silaturasi, hatur kasih atas kunjungan mari kita kembalikan pada diri kita dan berserah pada Tuhan yang Maha Esa.
Maaf beribu maaf apabila ada salah kata, kalimat ataupun tanda baca.
"Saya bukan batu yang tak pernah bersalah walau telah membuat luka di kepala, untuk itu mari kita biarkan bicara itu tetap menjadi emas, dan diam tidaklah emas, emas adalah simbol kesombongan yang tak pernah rendah, slalu meninggi tak pernah rendah diri apalagi berbagi, Diam adalah mutiara, bersembunyi dalam cangkang yang terjaga, apabila ia membuka diri dan berbagi maka dunia akan meliriknya".
Wassalam..
Spare:
Mari kita nikmati kopi hari ini,
Kopiku kali ini tanpa gula dan sendok, seperti rindu yang tak teraduk rasa, kosong mungkin tepatnya pahit untuk kopi pagi ini,
Bagaimana dengan kopimu Rieders?
Apapun rasanya selamat menikmati,
ternyata kopi kita berlainan rasa..
Berulang membuat kopi rasanya tidak pernah nikmat, sebelumnya terlalu pahit, kemarin terlalu manis. Hari ini lagi niatnya lebih berhati hati, tapi malah hambar tanpa rasa..
"Rasanya gak pas" pikirku dilanjut tertawa kecil dengan diri sendiri. "Kok ya bisa kebanyakan air", Aku meminumnya tanpa banyak berargumen dengan pikiran dan besok berencana membuat lagi dengan harapan mendapat hasil yang Aku inginkan,
Dean', bagaimana jika kegagalan lainnya bisa disikapi sesederhana ini? Hati tentu tidak mungkin seberat ini. Kopi ini rasanya kurang nikmat, tetapi kau suka dengan dirimu pada saat meminumnya.
Yang kutulis biarlah tetap menjadi tekateki. Tak usah di cari..
Mataku lebih kebingungan saat kalian kembali menuangkan racun kedalam kopi, mungkin kalian lupa, satu, selalu memiliki awal dan akhir, ada sebab yang telah dilalui karena akibat sendiri, jangan pernah berada dalam kaca, jika ingin melihat keindahan yang nyata, sudah kuingatkan bukan, engkau akan terluka; saat bayang tak ada engkau akan pecahkan kaca yang mungkin butuh hitungan tahun untuk berada pada sepi, karena kita dan kopi tak biasa hidup sendiri..
Kopi ada karena pelarian rasa, jika pahit itu sempurna maka tak perlu gula pengimbang makna. manis pahit maupun tawar itu bahasa yang terungkap dalam rasa. Kadang manispun lupa kenapa ia ada; tanpa kita ia takkan bicarakan rahasianya tentang rasa. rasa tak pernah ada tawaran ia pasti tak dapat dipungkiri; sakit, senang perih sepi kosong.
© Hak cipta dilindungi undang-undang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar